ini adalah area sempit, ruang tanpa gelar akademik, gelar keagamaan, gelar kepangkatan, gelar kehartaan, gelar kebudayaan, gelar-gelar yang mempersempit ruang nurani digelar

23/02/2014

23/02/2014

baca dulu

baca dulu

Monday 24 January 2011

Sajak Pertumpahan Waktu II

 
memang pernah datang menyelinap,
di antara senja dan rembulan berjerawat.
aku angkat tangan sambil tergagap,
kuakui dasyatnya, meski kini berangsur senyap, 
aku tahu sekantung oksigenku tersimpan di sana
tak ingin aku  melupa, mengebiri yang pernah ada
hati bernajisku gagal bicara, diam-diamlah di sajadah tua
menepismu! lukai buah-buah jambu air di beranda rumah
ingin kupinang dikau jadi inspirasiku
aku tak ingin menjadi penjaja
di lorong-lorong beton dan baja

wahai segayung waktu tertumpah
terkabar apa lagi di pagi buta
aku ingin susuran sehalusnya
tak ada sentakan detak arlojiku
aku hanya ingin memberi yang bisa kuberi
tak berpikir untuk menerima apa pun bentuknya
seperti sastra terakhirku
dzikirku menjadi noktah antara subuhmu,
mengerat sisa pertumpahan waktu
semoga lagi-lagi tak enggan kau eja!

http://sastrombudeg.blogspot.com

Selamat Pagi, Koruptor!

 selamat pagi, koruptor!
(jangan khawatir, sapa ini juga tertuju padaku)
apa lagi hari ini yang hendak kalian sayat dari negeri ini?

selamat pagi, koruptor!
(jangan khawatir, sapa ini juga tertuju padaku,
karena aku tahu, di negeri ini, koruptor merata tersebar
tapi tak pernah kita sadar)
apa lagi hari ini yang hendak kalian hisap dari puting ibu pertiwi?
susu tak lagi ada, darah telah mengering!

selamat pagi, koruptor!
hanya produksi borok-borok dan nanah  jelata yang kini tersisa,
masih tegakah untuk dijual agar kalian tambah kaya?

mungkin karena negeri ini bernama indonesia ...



http://sastrombudeg.blogspot.com

Wednesday 19 January 2011

Sajak Pertumpahan Waktu

terbanglah terbang
meniba cakrawala merah tembaga seusai subuh
semoga tak ada koyakan kibaran hati
setenang fajar, setenang fajar
setenang nelayan menggulung layar

terbanglah terbang
ada hari-hari doa duapertiga malam gulung-gemulung
berkuntum-kuntum kuseduh linangan
inang-inang persembahan penenang  perjalanan
khusuk terantar: selamat jalan waktu!

http://sastrombudeg.blogspot.com

Sunday 16 January 2011

Anakku Kecewa!

aku tahu, mungkin ini bukan puisi
tapi maki!
adakah bahasa yang lebih halus dari ini tapi bisa sadarkan mereka?
bui saja nggak sanggup,
apalagi sebatas puisi atau maki,
astagfirullah!
mungkin ini hanya terjadi
di sebuah negeri bernama indonesia!
 -----------------------------------------------------------------------

anakku kecewa,
reformasi birokrasi yang dilantang-lantang menteri
di spanduk berkibaran depan kantor institusi
ternyata hanya slogan embun pagi
ternyata sorban penutup daki!

anakku mahasiswa kedinasan itu kecewa,
ketika pola pembentukan karakter calon perwira hanya mengacu
pada daulat tuan, bukan indonesia raya!
pelajaran moral di kelas berstandar ganda:
pancasila sebagai ideology dijunjung tinggi,
tapi pelanggaran terhadapnya tersirat tetap harus dimaklumi!

o….
malangnya anakku!
malangnya indonesiaku!

tetaplah dengar kata bapakmu, wahai anakku!
sekarang begitu banyak manusia memborong gelar menempel di mana-mana
bertrilyun rupiah uang indonesia membiayai beasiswa mereka ke luar negeri
tetapi indonesia tidak mendapat apa-apa....
gelar-gelar itu hanya menjadi penyambar dan pembayar jabatan apapun juga jabatannya.
gelar-gelar itu ternyata hanya membebani anggaran indonesia

para dosen tak lagi menyelamatkan indonesia masa depan
tapi tetap setia pada penyelamatan pekerjaan mereka sendiri
kemunafikan itu dibaca mahasiswa!
dan karena biaya hidup tinggi dalam perkuliahan itu
dua juta sebulan biayamu kurogoh saku dari meja sablon!
mahasiswa lalu ikut-ikutan bergaya birokrat sejati!
semoga kau dan kawan-kawanmu mengerti,!
engkau dididik untuk menjadi pelayan!
semata-mata untuk menjadi pelayan! mengapa harus bangga diri dengan status kepelayanan yang belum dijalani!

sampaikan salam tamtama sudra bapakmu ini kepada mereka!

kesombongan strata 1,…, …2, ….3,…!
memberangkus nurani keindonesiaan para muda!
keangkuhan strata 1, 2, 3 …!
menzolimi idealisme para muda!
mereka lupa, sang doctor honoris causa affandi pernah dihina keluarga basuki abdullah karena otodidaknya!
juga lupa kehebatan filosofi sudirman si guru sekolah rendah itu, bukan hasil didikan knil ningrat belanda!

anakku kecewa atas pembentukan jiwa mendasar keindonesiaan di kampusnya,
tapi anakku, bila kau harus keluar dari almamatermu sekarang,
dan pindah ke sekolah lain yang kamu harap merdeka itu,
sanggupkah dengan status kemahasiswaanmu yang baru itu
lalu engkau dapat mengubah indonesia sesuai keinginanmu (kita)?
percayalah, dekadensi ini telah merasuk di semua lini!
kita saat ini manusia kecil (saya percaya kamu tidak kerdil)
bahwa kegelisahan terhadap keindonesiaan yang seperti ini tidaklah baru kemarin sore,
iwan fals, rendra, rhoma irama, budiman sujatmiko, sudah lebih dari dua puluh lima tahun merasakannya.

ini bukan indonesia di kepala soekarno
ini bukan indonesia di kepala hatta
ini bukan indonesia di kepala soedirman
ini bukan indonesia di kepala surya paloh
ini bukan indonesia di kepala sri sultan hb ix, x
ini bukan indonesia di kepala para tetua adat budaya nusantara
ini bukan indonesia di kepala para perintis nasionalisme indonesia
yang datang dari ribuan pulau di kepulauan nusantara

pasti,
pasti,
sebentar lagi ada yang bergerak,
sebentar lagi ada yang bergerak,
pasti!

kegelisahan bapak saat aksi 98
yang harus bernyanyi padamu negeri di ladang-ladang kering tanah podsolik
di daerah transmigrasi itu
semoga tak terjadi padamu!
pesan bapak:
berangkatlah!
estafet iwan fals, rendra dan lainnya, sekarang,
sekarang bapak letakkan di pundakmu!

jangan takut!
bapak bangga bila kamu harus mati karena kebenaran itu!
bapak di sampingmu!
kitakah martir itu. kitakah martir itu!

jangan takut siksa,
jangan takut culik,
salam perwira  dari tamtama sudra!

aku tahu engkau menangisi indonesia kita (bukan indonesia mereka)
indonesia kita adalah indonesia yang merasa dibebani tangis para buruh tani dan pekerja pabrik,
orang-orang beragama yang ingin beragama secara baik-baik pula
para pintar yang ingin jadi pns tapi tak punya uang 150 juta (yang lalu dikeliti karena tak ada bukti)
para cerdas dan sehat yang ingin jadi tentara tapi tak punya uang 400-500 juta! (yang lagi-lagi juga lalu dikeliti karena tak ada bukti)

kita hidup di negeri revolusi
yang bangga dengan revolusi
tapi tertimbun oleh berkarung-karung kotoran
rezim hasil revolusi

jutaan cinta indonesia mereka (bukan indonesia kita),
aku menghitungnya,
seperti merinci najis di mata dan hatiku sendiri!


http://sastrombudeg.blogspot.com

Wednesday 12 January 2011

Terserah Kau Juduli apa! (VIII)

bercak bening itu
sesungguhnya hanya menunggu jelma pada detik selanjutnya
tapi hati berlumut tak berpenghuni rasa itu telah tercerabut
menyingkir dari waktu terbersit

bercak bening itu
seharusnya menjadi sendang lepas dari penantian
bersulap diri menjadi sayap
menjadi paruh menjadi burung
terbanglah tenang di jauh sesalan!

hidup barumu itu
salam penutup paling bahagia
yang paling ada!




http://sastrombudeg.blogspot.com

Tuesday 11 January 2011

Terima Kasih, Tuan Indonesia!

datang di negeri tuan,
seperti menjelajahi perkuliahan di akademi paling purba di zaman ini:
kami mengikuti kuliah-kuliah umum di lapangan-lapangan terbuka, 
di gedung-gedung pengadilan, di kantor-kantor pelayanan pajak, 
advokasi friends and brothersnya, lembaga pendidikan, serta pelayanan publik lainnya,
di stasiun televisi, lembar koran, jalanan, rumah sakit, dalam penjara, ....

kami diajari korupsi dan bagaimana cara meloloskan diri ke luar negeri,
kami diajari politik dan bagaimana cara melanggengkan kekuasaan,
berpikir melulu tentang supremasi dinasti tanpa kenal malu,
kami diajari ekonomi dan bagaimana cara mengeruk keuntungan tanpa nurani
kami diajari hukum dan bagaimana cara hidup di dua tempat dalam waktu yang sama
kami diajari agama dan bagaimana cara berkotbah secara munafik
tapi tetap memperoleh rating tinggi di televisi
kami diajari bermain bola dan bagaimana cara mengatur pertandingannya
kami diajari bahasa tentang makna kata dan istilah blunder politik dan hukum, standar ganda kebijakan, oknum, manipulasi data, politisasi hukum dan sepak bola, ...
bendahara kata yang saya dapatkan terasa luber di kepala ...

kami juga tak melewatkan pentas-pentas teater budaya negeri tuan:
anekdot-anekdot petinggi hukum yang statementnya mencla-mencle, 
anggota dewan penuh perdebatan, tapi  keputusan-keputusan yang dihasilkan, ternyata berdasar analisa-analisa dan pola pikir yang tak lebih baik dari keluh kesah buruh tani tak berpendidikan, pegawai rendahan atau gelandangan yang mengais sisa makanan di tong sampah gedung dewan, atau bahkan lebih sering hasil analisanya kalah matang dari ocehan mabuk para penganggur, maling, atau perempuan nakal yang mangkal sambil minum anggur dan bermain catur.

terima kasih tuan indonesia,
engkaulah maha guru ilmu kebobrokan dan kebodohonan terbaik 
yang pernah ada di muka bumi!


http://sastrombudeg.blogspot.com

Sunday 9 January 2011

Terserah Kau Juduli apa! (VII)

kutinggalkan congkel kayu tangga rumahmu
sekedar tetenger aku pernah bertandang
masih adakah kebencian itu menghadang
berjaga sewaktu-waktu aku menggelandang
datang dan terhenti tepat di muka pagar
bunga-bunga bakung dipenuhi mencretan angsa-angsa
gerit pintu pagar bambu
adakah itu orkestra abadi milik bapakmu?


http://sastrombudeg.blogspot.com

Friday 7 January 2011

Terserah Kau Juduli apa! (VI)

 
ketika rindu
menyeberang jalan
pergolakan
angsa-angsa berseliweran
pohon-pohon cemara tegar meregang
kabut-kabut menghambur legit hawa malam

ketika rindu menyeberang jalan
bekas roda-roda pedati
membentuk garis-garis nyata yang panjang
sekumpulan remah petualang
tertumpah sulit didetailkan

ketika rindu menyeberang jalan
lata bisu menyusur setapak edelwis layu
kaku mengais waktu

hiduplah rinduku
di seberang jalan tak sanggup kucatat
pemandangan lain arah yang menghujat!

o rindu yang mengejang
mengapa tak juga tembus pandang!

http://sastrombudeg.blogspot.com

Terserah Kau Juduli apa! (V)

 
berhenti sebentar,
bukankah itu jalan setapak dulu
yang pernah kita lewati tanpa ragu

batu-batu letusan ungaran purba?
terbayangkah debu-debu menyelimuti kita?
edelwis-edelwis langsing terkapar lunglai di bibir ngarai?

dan itu adalah kelok sempit,
tempat nafas kita berhimpit
kau sentuh lagi langitku
seutuh dulu

adakah kembang kertas itu masih terjejak di sana
merinding senantiasa
menanti si tuan kembali datang menjemputnya

http://sastrombudeg.blogspot.com

Terserah Kau Juduli apa! (IV)

 
tuhanku,
aku ingin softwaremu,
antivirus kecenderungan napsu
piranti keras yang tahan terhadap waktu
sugesti yang menyongsong istikharah-mu

tuhanku
di mana engkau sembunyikan rahasiamu,

http://sastrombudeg.blogspot.com