ini adalah area sempit, ruang tanpa gelar akademik, gelar keagamaan, gelar kepangkatan, gelar kehartaan, gelar kebudayaan, gelar-gelar yang mempersempit ruang nurani digelar

23/02/2014

23/02/2014

baca dulu

baca dulu

Friday, 13 April 2018

'Dagang Sapi' antara Gerindra dan PKS?


Ketika Gerindra dan PKS menerapkan politik dagang kambingnya serta mengabaikan suara rakyat yang anti jokowi 2 periode, kemungkinan besar #2019gantipresiden tidak akan terwujud. Saya berharap, Gerindra dan PKS tidak 'nggege mangsa' dan terlalu percaya diri dengan mengedepankan ego kepartaian masing-masing.

Oleh sebab apa saya menulis ini? Apa dasarnya?

1. Prabowo sudah berjiwa satria dan secara implisit maupun eksplisit telah membuka diri, siap sebagai calon maupun siap sebagai 'King Maker'. Artinya, kader Gerindra harus mawas diri, bijak membuat pilihan, serta berani berjiwa besar untuk mengesampingkan pencalonan Prabowo. Jujur saya katakan, Prabowo sampai detik ini masih memiliki 'lubang fitnah' yang rentan untuk dibombardir oleh lawan-lawan politiknya. Peluang yang lebih besar akan muncul bila Prabowo berdiri sebagai 'King Maker' bagi misalnya, Gatot Nurmantyo, atau yang lain dalam tataran sama.

2. Demikian juga PKS, jujurlah kepada diri sendiri bahwa kader kalian bukanlah kader yang mempunyai daya tawar tinggi ke rakyat nasionalis (bahkan tidak juga untuk sebagian besar yang berhaluan agamis). Kader kalian hanya sebatas 'disukai' oleh orang-orang di dalam tubuh partai kalian sendiri.

3. Karena sebagian besar pemilih bukanlah kader / simpatisan partai, tetapi para rakyat yang hanya ingin #2019gantipresiden.

4. Kapabilitas antara capres dan cawapres harus seimbang / selevel. Wapres bukanlah sekadar pendamping presiden. Mengapa? Karena kontestasi yang akan terjadi adalah kontestasi mencari putra terbaik bangsa dari yang terbaik, bukan ajang yang memaksa rakyat untuk memilih calon presiden dan calon wakil presiden dari sekumpulan anak bangsa yang 'terbaik dari yang terjelek' hasil olahan (filterisasi) partai politik-partai politik bermental blantik.

5. Penonjolan ego kepartaian pada koalisi ini akan mengakibatkan kemunculan poros tengah yang belum tentu menguntungkan Gerindra dan PKS, bahkan dapat menimbulkan keterpecahan suara 'oposan' serta bermuara pada kekalahan yang telak dan menyakitkan. Berdialog dengan rakyat yang bukan sebagai kader/simpatisan partai merupakan salah satu langkah bijak.

6. Berbeda dengan pemilu terdahulu, saat ini rakyat pro #2019gantipresiden sedang mencari partai politik yang bisa menjadi perahu pengusung aspirasinya, jangan terbalik! Partai politik harus berlapang dada untuk keluar dari pusaran watak hegemonitas demokrasinya (politiknya)! Ingat, partai politik ada karena tuntutan praktis dari faham demokrasi yang kita anut. Tidak lebih tidak kurang!


http://sastrombudeg.blogspot.com

Saturday, 7 April 2018

Hoax Petruk

coba ingat kembali, sebelum pemilihan raja tempo tahun, di sekeliling kita berseliweran berita / kabar dari mulut ke mulut bahwa kalau petruk menang jadi raja, harga balam/karet akan naik. sudah barang tentu, karena berita ‘baik’ itu, para pekebun karet yang saat itu sedang ‘sekarat’ akibat harga karet yang terpuruk tajam menjadi terpesona dan terhipnotis serta berusaha mempercayainya (karena di situlah titik harap mereka).

apakah tiga tahun berlalu setelah itu (sekarang ini), harga karet sudah sesuai harapan seperti yang didesas-desuskan dengan kencang pada saat itu? ternyata belum bukan? karena informasi yang benar adalah naik-turun harga karet memang berada di kekuasaan pasar dunia, bukan karena kekuasaan si petruk!

jaringan tim sukses memang kadangkala ‘sangat kejam dan tidak bertanggung jawab’ dalam melakukan aksi-aksi kampanye demi memenangkan sang jagoan. dari mana sumber kabar harga karet ‘pasti’ naik berasal?

pusat memberi breafing pemenangan, mesin partai mulai bergerak. legislatif pendukung dan segala macam jaringannya bergerak dengan membaca trend dan ‘kegelisahan’ di wilayah masing-masing. misal, di suatu wilayah pertanian, petani yang memiliki masalah dengan kelangkaan pupuk, maka jaringan ini mengolah sedemikian rupa sehingga terbentuk opini luas bahwa kalau petruk jadi raja, masalah ini pasti beres tertangani, lihatlah si petruk itu, karena keberpihakannya kepada rakyat kecil, rela bersusah-susah melenggang di pematang sawah untuk menampung aspirasi petani.

tentang pekebun karet, demikian juga adanya. barangkali sudah menjadi bagian dari jaringan pemenangan, saya ‘mensinyalir’ bahwa berita akan ada kenaikan harga karet bila petruk jadi raja, adalah bersumber dari ‘ring-ring’ pedagang besar (pabrik pres) yang ‘digetok-tularkan’ secara informal (saat ngobrol sambil ngopi bareng di warung dll.), baik melalui para tauke, sopir-sopir pengangkut getah dari petani ke pabrik, atau melalui siapapun yang berdekatan dengan ring itu. dari mereka, turunlah berita tersebut menyebar ke mana-mana, terutama sampai ke target utama (pekebun).

cara kerja demikian adalah cara kerja ‘kuno’ tapi masih ampuh/efektif untuk (maaf) memangsa pasar suara dari kalangan tertentu yang dilatarbelakangi oleh tingkat keperdulian politik serta kemauan bermain analisa informasi yang sangat rendah. dalam hal demikian, si partai pendukung petruk akan menina-bobokkan penikmatnya dengan mengeluarkan statement ‘rakyat yang cerdas adalah rakyat yang memilih petruk!’.

dengan modal hoax tersebut, si petruk saat ini nyaman nangkring di singgasananya dan berharap dapat menambah satu porsi jabatan lagi, menjadi dua periode!

itulah hoax yang sebenar-benar hoax!
http://sastrombudeg.blogspot.com

Dialog di Teras Istana antara Petruk dan Sengkuni

Sengkuni:
“Gimana, setelah tiga tahun berjalan? Enak to, Truk?“

Petruk:
“Iyaaaaaaa, huenak enan….huenak enan, heh...heh...heh...heh...heh…!“ (tawa khasnya terlepas, tak lupa bahunya terangkat-angkat)

Sengkuni:
“Mau maju lagi enggaaaaak?“

Petruk:
“Huenak enan….huenak enan!”
(senyum-senyum, sudut –sudut kamera – eh maksud saya, sudut-sudut matanya tak bisa menyembunyikan napsunya)

Sengkuni:
“E...kok malah cengar-cengir, mau enggaaaak…? Kalau nggak mau nanti kami kasih ke yang lain lhoooo…!“

Petruk:
“Eh jangaaaaan! Jangan! Tapiiii….., apa ya saya bisa jadi lagi?“

Sengkuni:
“Nah, aku tanya dulu, pintermu apa?“

Petruk:
“Mangsud Pakde Sengkuni?“ (sambil bertanya begitu, jari telunjuk kirinya mengibas seliwir rambutnya ke atas agar minggir dari jidat)

Sengkuni:
“Skillmu apa? Keahlianmu apa? Talentamu apa? Ente punya hobi andalan apa?“

Petruk:
“Oooh, bakat to? Kehebatan saya to? Wow, banyak! Ya, saya pinter kementhusan (banyak gaya sok tahu sok berani), pinter ngibul, terus apa lagi ya…., nah ini, saya juga ahli ndagel (melawak) heh...heh...heh...heh...heh…!“ (lagi-lagi tawa khasnya terlontar selontar-lontarnya hingga gusi atas yang kehitam-hitaman itu terekspos dengan sempurna, tak ketinggalan, pundak pungkringnya terguncang-guncang hebat seperti skubidu ketakutan melihat kain sprei putih terbang melayang-layang)

Sengkuni:
“O, dasar aslimu punakawan ya mau sampai di ujung Afganistan pun tetap punakawan! Tapi ya sudah, itu saja! Ndagellah sepuasmu sesuai improvisasimu. Tapi ingat! Kalau pidato kamu harus pakai teks lho ya, jangan seperti kemarin, karena blank, ditanya wartawan kamu malah a’u’a’u’…!“

Petruk:
“Lha tapi kan malah jadi ger-geran to? Ya ndak... ya...ndak..., heh...heh...heh...heh...heh…!”

Sengkuni:
“Husssst! Diam dulu!“

Petruk:
“Huenak enan….huenak enan!”
(tangan kanannya meraih handphone yang tergeletak di atas mejanya, diam-diam mengangkatnya tinggi, dan meringislah dia sambil memandang lensa kamera handphone, cekrek!)

Sengkuni:
“Hei...hei! Kalau sedang dibreafing itu diperhatikan! Jangan selfi melulu kau! Cemana pulak kau ini!" (ssssttttt!, akhirnya keluar juga logat asli si Sengkuni, tetapi dia masih berusaha sabar menghadapi segala tingkah polah boneka hidupnya itu)

Petruk:
“Oh, maaf ... maaf! Huenak enan….huenak enan!”

Sengkuni:
Nah, kita lanjutkan! Kalau kawulamu masih belum upgrade nalar politiknya, maksudku, mereka masih seperti yang dulu, menganggap memilih raja sama dengan mengikuti polling cari artis terfavorit di televisi, maka kamu pasti akan jadi lagi! Pasti jadi! Seluruh lini akses sangat kita kuasai. Pasti kamu jadi! Seterusnya, kalau kamu jadi lagi yaaaa … seperti biasalah, hal-hal yang berat menyangkut urusan kerajaan, serahkan semua kepada kami. Pasti beres. Yang penting, kamu bisa njagong duduk di singgasana, terus bisa blusukan untuk potong-potong pita peresmian proyek-proyek yang belum jadi itu, bagi-bagi sepeda, bagi-bagi sertifikat, latihan tinju, momong burung, miara cebong di kolam cethek dan buthek, lempar-lempar souvenir pakai tangan kiri dari dalam mobil, lempar-lempar sekop juga, semua tidak ada yang ngelarang! Pokoknye suka-suka ente dah....!"

Petruk manggut-manggut . Wajah polos dan lugunya menyemburatkan kesukacitaan. Sempat terlintas dalam pikirannya, kalau saja tahu dari dulu bahwa jadi raja itu gampang dan enak seenak kayak gini, sejak ceprot keluar dari rahim bunda pun aku sudah mau dijadikan raja…! Huenak enan….huenak enan!


http://sastrombudeg.blogspot.com

Antara Konde, Kebaya, dan Cadar

Karena konde, saya jadi teringat pada sebuah status seorang kawan FB di akunnya (seorang pegiat budaya, selebihnya off the record) yang dibuat pada beberapa tahun yang lalu. Aksentuasi dan emosinya, secara implisit maupun eksplisit, menurut saya mengandung pesan yang sama (suatu kebencian yang berusaha ditutup-tutupi), membandingkan sesuatu hal menyangkut sebuah keyakinan spiritualitas (lebih merujuk ke Agama Islam) dengan sebuah produk budaya.

Kalau si emak membandingkan cadar dengan konde, nah, si kawan itu membandingkannya (cadar) dengan kebaya. 

Si kawan lupa bahwa pada keyakinan yang dianutnya (sudah barang tentu di luar Islam), wanita-wanita pelayan rohaninya juga mengenakan pakaian mirip jilbab yang notabene merupakan uniform khas mereka dan itu berasal dari luar Nusantara.

Pun, pada kenyataannya, klaim bahwa konde dan kebaya sebagai sebuah kekhasan (asli?) produk budaya Nusantara sampai saat ini masih menjadi perdebatan para ahli.

Budaya sebagai hasil olah budi dan daya manusia, sesunggguhnya tidaklah se-ekslusif yang kita kira (paling tidak oleh saya!). Itu lebih dikarenakan sifatnya. Budaya (kebudayaan) memiliki sifat lentur dan dinamis, sehingga tidak bisa lepas dari unsur keterpengaruhan, baik dipengaruhi oleh unsur-unsur dari luar geografisnya, maupun dipengaruhi oleh unsur fungsi (kebutuhan) serta selera (perubahan nalar) menurut zamannya. Di dalamnya, bisa saja terdapat unsur fungsi dan nalar spiritualitas!

Kebudayaan merupakan produk dari berbagai macam bentuk interaksi dan sebagai salah satu imbas dari lalu lintas pergerakan manusia dengan berbagai macam latar belakangnya. Kebudayaan senantiasa bergerak mencari bentuknya sendiri dalam setiap waktunya.

"Tidak ada yang orisinal (autentik) dalam karya seni dan budaya, sebab orisinalitas hanya milik Tuhan Sang Pencipta!", demikian lebih kurang dikatakan oleh Ikranegara (Suara Merdeka, 17 April 1994)

http://sastrombudeg.blogspot.com

Saturday, 30 April 2016

TNI AU dan Kereta Cepat

 TNI AU (bersama dua matra lainnya) harus kukuh konsisten mengutamakan kepentingan pertahanan negara, ketimbang menuruti pesanan penguasa untuk mengalah bagi sekadar rute kereta cepat (mana lebih urgen?). TNI AU membutuhkan dukungan rakyat untuk mempertahankan pendiriannya itu. TNI milik NKRI, bukan milik segelintir pelaku ekonomi dan penguasa. Jangan takut bila para komandannya akan digeser atau dibangkukan bila hasil analisa militernya berseberangan dengan pe'syahwat' kereta cepat. Idealisme pertahanan dan keamanan negara harus dimenangkan. Satu hal yang harus dicatat adalah bahwa para penguasa politik akan bertampuk hanya untuk paling lama sepuluh tahun. Sementara itu,  TNI AU berikut NKRI harus eksis jaya selama-lamanya. 

JK terkesan tidak memahami bahwa pertahanan dan keamanan (termasuk intelijen di dalamnya) adalah sesuatu yang lebih penting dan utama (krusial) dari apapun berkait dengan eksistensi sebuah negara. Jangan sampai terjadi, TNI justru diobok-obok oleh orang dalam dan institusi negara sendiri. Kebijakan untuk jangka panjang jangan hanya berdasarkan pola pikir kekinian (selagi masih kuasa) saja, dampak (kerugian) di masa datang tidak dipikirkan secara matang. Selagi masih ada alternatif lain untuk memuaskan sahwat kereta cepat, mengapa harus memaksa TNI AU untuk menyerahkan tanahnya? Maka dari itu, jangan grusa-grusu asal cepat dan cepat melulu, analisa amndal, politik, ekonomi, sosial, dan hankam (strategis) harus tuntas dulu.

http://sastrombudeg.blogspot.com

Saturday, 10 October 2015

Dicari: Martir-Martir Revolusi Rakyat Semesta Indonesia Raya!

sadarkah kita bahwa kita saat ini tengah di ambang 'revolusi' yang paling berat dalam sejarah kebangsaan kita semenjak kemerdekaan 17 agustus 1945. kita saat ini berada pada hiruk-pikuk yang membutuhkan pengawalan ekstra dari semesta rakyat indonesia raya untuk mengamankan 'revolusi moralitas' bangsa indonesia. 

jargon 'reformasi' saat ini ternyata sudah tidak laku dijual dalam kehidupan berbangsa. terlalu singkat sungguh! apabila hanya dalam kurun waktu tak lebih dari 12 tahun, jiwa-jiwa bermental korup telah bangkit lagi, dan bahkan terang-terangan unjuk kebobrokan moralitas dari ketiarapannya.

jiwa-jiwa koruptor itu, mungkin saja ada dan bersarang dalam diri kita sendiri! mungkin saja akibat kita terjebak dalam area dan aura mafia. mafia hukum, mafia ekonomi, mafia agama, dan bahkan mafia dunia pendidikan! dua terakhir adalah palang terakhir pula bagi laju jiwa-jiwa koruptor dan manipulator dalam diri 'kita'. 

untuk itu, marilah kita rombak paradigma dan mitos sempit yang membelenggu alam pikir kita bahwa korupsi seolah-olah telah menjadi budaya dan hanyalah sebuah utopia belaka untuk menghapusnya!

korupsi ternyata memang sudah menjadi urat nadi eksekutor dalam segala bentuk penyelesaian semesta masalah-masalah kehidupan kita. termasuk urusan bisnis, keamanan, atau pun sekedar urusan mencari sesuap nasi, barangkali kita telah terkontaminasi dengan virus korupsi dan manipulasi, karena mungkin danau besar di atas awan bernama negara kesatuan republik indonesia telah teracuni. entah siapa menaburnya dan dari mana hulunya. 

korupsi bisa kita singkirkan hanya dengan cara merevolusi mental dan moralitas diri kita sendiri, ya, masing-masing kita! sekecil apa pun kita sekali pun. kita yang tinggal di kota, di pulau terluar, atau dalam profesi apa pun. (saya terbahak), bukan cuma berteriak-teriak di jalanan menjadi kepanjangtanganan politikus oportunis yang sudah bertanggal kadaluwarsa dan tak punya 'momongan'. 

jangan takut, beranilah berkata dan bertindak 'tidak berkorupsi' dalam lingkup kerja, pergaulan, atau dalam sel terkecil sekali pun.

tak perlu takut dan jatuh gengsi dicap sebagai pahlawan kesiangan! tak perlu merasa tersingkir dari jungkir-balik logika mereka (para promentalitas korupsi). 

selamat datang martir-martir 'revolusi moral semesta rakyat indonesia raya'.kebanggaan dan kejayaan kita bukan melulu tentang borobudur, tentang toba, tentang warok, dan eksotika pulau dewata, wayang, batik, atau komodo. kebanggaan dan kejayaan kita selanjutnya adalah tentang cita-cita, mimpi besar, dan menyatakannya! lalu berlanjut dengan mimpi-mimpi besar di langit indonesia raya lainnya, dan kita berbondong menyatakannya! inilah dinamika sebuah bangsa yang tak ingin tergilas 'saudara serumpun'nya! di saat bangsa-bangsa di belahan dunia sana tengah menikmati dan terus saja menuliskan kenyataan-kenyataan manis buah mimpi besarnya, dan terus saja mencipta mimpi-mimpi besar mereka yang baru, ....

ironisnya, .... 

kita saat ini justru tengah dalam kebingungan dan belajar kembali sekedar untuk mengerti tentang apa arti mimpi besar bagi sebuah bangsa! 'revolusi' ini tidak membutuhkan orang-orang politik yang hanya setia pada partai, 'selebritis bermuka agamis', orang-orang hukum yang hanya berdedikasi pada baju korps sendiri, yang hanya pandai bantah-membantah dan bermental oportunis, para pedagang yang bermental 'ngemis tender' dan berpat-gulipat angka-angka proyek! 

tak usah saling menyalahkan!

tak perlu pula kita tunjuk hidung 'gayus-gayus' atau yang lain! dari situlah kita ditonton oleh para duta besar negara asing sebagai opera kurcaci-kurcaci kerdil! revolusi ini adalah revolusi mental dan moral semesta rakyat indonesia raya! tak terkecuali! 

ini bukan melulu masalah pemerintah pusat. percuma, pemerintah pusat ngotot membentuk tim pemberantasan mafia-mafia virus bejat nan merugikan bangsa, apabila orang-orang di daerah cuma berani nonton dan ongkang-ongkang serta tidak berkomitmen terhadap denyut nadi pemberantasan korupsi bangsanya.

sadarkah kita bahwa kini daerah telah menjadi tempat berlindung paling aman bagi jejaring mafia-mafia tersebut di atas. saya ’sinyalir’ banyak ’orang pusat’ merasa lebih bebas dari sorotan dan ‘nyaman’ menyusun tahapan karier ke pusat-nya dengan dukungan suasana daerah dalam sikap keabu-abuannya terhadap korupsi dan manipulasi. 

tak ada oknum di sini. ini adalah kesalahan sistem yang ’menyemesta’!

untuk sementara, diam dululah pak politikus! ini bukan ranah politik aji mumpung .... 

diam dululah pak hukum! ini bukan wilayah pasal-pasal kalian …. 

diam dululah dari bicara yang melulu berdasarkan logika disiplin ilmu, pangkat, jabatan, profesi, dan strata pendidikan sendiri. 

ini adalah masalah dekadensi moralitas! (yang pernah ditulis seorang kawan sma saya pada tahun 80-an yang kenyataannya makin parah). dengan ppkn tidak mempan! dengan pendidikan agama justru ’tambah pintar dan berani’ korupsi! lalu harus dengan apa lagi? 

sekarang, yang kita butuhkan adalah jiwa-jiwa perwira bukan hasil didikan akademi atau sekolah tinggi. jiwa-jiwa perwira yang sanggup dan bersedia berebut di barisan paling depan untuk 'me-revolusi mental dan moralitas kita’! 

jiwa-jiwa perwira manusia pribumi dan keturunan yang secara sadar dan ikhlas me-revolusi mentalitas dan moralitas kebangsaindonesiaannya. bukan hanya mau mengeksploitir kekayaan sumber daya alam dan pasar besar bangsanya. 

selama ini, kita ternyata hanyalah sekumpulan manusia yang mencoba (bahkan tidak pernah mencoba) berteriak sebagai bangsa besar, tapi tak berdaya menggambar mimpi-mimpi besarnya, apalagi mewujudkannya! 

selamat datang martir semesta rakyat indonesia raya!'

revolusi mentalitas dan moralitas semesta rakyat indonesia raya bukanlah melulu tentang korupsi dan underbownya. tapi momentumnya dimulai dari sini. 

selamat datang perwira-perwira pertiwi!
 (2010)

http://sastrombudeg.blogspot.com

Sunday, 4 October 2015

Unduh Buku Induk Siswa SMA Ukuran A3

Buku induk siswa SMA ini saya buat secara melintang (landscape) ukuran A3. Perlu diperhatikan, setting di Word ukuran custom size 42.0 cm (420 mm) dan 29.7 cm (297 mm) dengan margin dilihat sendiri pada unduhan ini. Demikian juga pada setting printer (ini harus memakai printer yang mengakomodasi ukuran kertas A3, atau lebih bagus pada mesin fotokopi yang dapat dihubungkan dengan komputer-misal Canon iR5000). Pada unduhan tersebut, terdapat dua halaman, halaman satu berisi biodata siswa, halaman dua berisi nilai siswa per semester. Catatan, jangan ubah margin pada unduhan, karena sudah diset untuk jilid buku bolak-balik. Langkah printingnya, print dulu halaman satu sejumlah yang diinginkan (misal 200 lembar), setelah itu kertas dimasukkan ke baki kertas printer untuk diprint halaman duanya. Tes dulu satu dua lembar dulu, kebalik-balik apa tidak teksnya, kalau kebalik, seluruh halaman kertas yang di atas dibalik menghadap ke bawah. Bila sudah tercetak semua, jilidlah dalam bentuk jilidan hard cover (jilid keras dan tebal seperti skripsi).

Saya menganjurkan, apabila terdapat perubahan data, jagalah supaya tidak ada pergeseran halaman kertas, karena akan mempengaruhi tata letak.

Lebih afdol lagi, teks dalam format word diubah menjadi bitmap, caranya, blok halaman satu, copy, buka Coreldraw (setting A3), paste, klik dulu teks tadi, biarkan sebentar, kemudian klik mouse di luar teks tadi. Klik lagi, buat bitmap grayscale, kemudian atur tata letak (margin kanan-kiri sesuaikan untuk penjilidan nanti. Blok halaman dua dan lakukan langkah seperti tadi.

Dengan buku induk ukuran A3, buku induk akan terlihat paling besar di antara arsip sekolah (seperti album), sehingga akan sangat mudah dalam pencarian apabila salah letak oleh karena sesuatu hal.

Bingung ya? Kalau belum jelas dan bingung dapat ditanyakan ya. Salam.

http://sastrombudeg.blogspot.com

Tuesday, 3 March 2015

Pesan untuk Pribumi

Saya hanya menulis pesan ini untuk kaum pribumi. Yang bukan pribumi tidak usah ikut campur!

Hanya untuk para pribumi anak – cucu yang kakek, nenek, ayah, dan ibu mereka turut berjuang nyata (tanpa rekayasa) menghadapi kolonial , berhati-hatilah kita terhadap propaganda terselubung dari para kaum oportunis. Janganlah kita terbawa arus untuk ber-save si a…save si u (save untuk orang per orang, bukan institusi). saya mencurigai di belakang si a atau si u ada banyak kepentingan memanfaatkan momen hiruk-pikuk akhir-akhir ini, memunculkan tokoh-tokoh heroik yang ujung-ujungnya meminta pengakuan lebih yang sesungguhnya merugikan kita turun-temurun dan sangat bertentangan dengan cita-cita bangsa yang telah ditebus dengan  cucuran keringat dan darah para pahlawan pendahulu kita.

Mereka membabi buta mendoktrinasi kebenaran ala mereka melalui segala cara (termasuk media social). Kita tidak boleh bingung dan terombang-ambing.

Kita harus berani berkata bahwa kita adalah pribumi asli (tanpa bermaksud rasis). Adalah hak kita untuk berteriak bahwa kita adalah pribumi asli yang sah dan berhak atas warisan kemerdekaan yang diperjuangkan leluhur kita. Tidak ada yang berhak menghalangi itu. Sebab, penghalangan dan penolakan terhadap pernyataan kepribumian kita adalah merupakan tindakan pengingkaran terhadap Undang-Undang Dasar Republik Indonesia1945 yang asli dan buah pikiran cemerlang founding fathers negeri ini.

Korupsi adalah musuh kita bersama dan benar harus kita habisi bersama pula. Tapi penyelesaiannya, tidak boleh melanggar undang-undang pula, terlebih memakai kata-kata sarkas yang seringkali juga digunakan oleh para kaum oportunis terhadap para jongosnya. Kata-kata sarkas yang dilontarkan oleh seorang pemimpin, tentulah tindakan tidak cerdas yang sangat merendahkan harkat-martabat orang lain, tidak negarawan, tidak memiliki sopan santun, tidak berbudaya, serta tidak ditolerir oleh agama apa pun.

Untuk para pribumi yang saat ini memegang tampuk kekuasaan saya berharap segera bertobat dan sadar. Bahwa tindakan-tindakan koruptif yang kalian lakukan, ternyata ada yang lebih berbahaya dari sekedar merugikan keuangan negara. Lebih dari itu, akibat kasus-kasus koruptif kalian, agaknya, akan dapat berkembang dan dijadikan pintu masuk oleh kaum oportunis untuk meraih dominasi mereka atas eksistensi ekonomi, sosial, serta politik ketatanegaraan kita.

Amandemen UUD 1945 Pasal 6 ayat 1, telah memberi ruang pembenaran atas propaganda para kaum oportunis ini. Seluruh lini kehidupan di NKRI ini lambat laun akan mereka kuasai. Kita akan terpinggirkan karenanya.

Selama berabad-abad di tanah air kita, mereka tidak pernah mengintrospeksi diri mereka sendiri  atas tindak-tanduknya dalam bersosial (berinteraksi), berpolitik, dan berekonomi di negeri ini. Selalu saja kita yang dianggap pemalas dan bodoh. Mereka tidak memurnikan diri dalam ketulusan bergaul dengan kita (walau tidak semua).

Filosofi para kaum oportunis ini, dari abad ke abad tidak pernah berubah dan surut. Uang dan uang! Sementara, kearifan lokal bangsa kita adalah bukan sekadar itu, kita menganggap dunia hanyalah tempat ujian untuk meraih kemenangan di alam keabadian kelak. Perbedaan filosofi ini, agaknya, sampai kiamat pun tidak akan pernah bertemu dan berdamai. Ini pun terjadi di hampir seluruh belahan dunia lainnya (baca sepak terjang mereka di negara lain, terutama Malaysia yang filosofinya segaris dengan kearifan lokal kita).

Kasus korupsi anggota DPR di mana pun adanya, adalah wilayah hukum, tidak perlu lari-lari ke ranah politik dukung-mendukung. Waspadalah. Saya tidak memprovokasi,  tapi mari kita tunggu dan cermati, jangan hanya ikut-ikutan tapi kurang dasar dan berakibat kehancuran kehidupan dan kemerdekaan anak cucu kita kelak.

Percayalah, ini murni lahir dari kekhawatiran saya pribadi dan hasil mencermati komentar-komentar para netizen yang saya duga adalah para kaum oportunis (kalaulah itu kaum pribumi, mereka merupakan korban penggiringan yang tidak mengerti atau tidak mau mengerti secara utuh dan jernih atas sejarah perjalanan kenegaraan kita).
 
http://sastrombudeg.blogspot.com

Wednesday, 5 November 2014

Satu Dua Tiga Jepret!

Sebenarnya, saya bukan tukang foto beneran (saya tulis saja 'tukang foto' -bukan 'fotografer'). Saya membeli kamera cuma karena ingin menyalurkan hobi, selain ingin memuaskan diri dari rasa sok  ingin tahu saja tentang fotografi.

Kadang (sering sih-hehe), istri saya ngomel-ngomel: " Hobi kok mahal, kamera bagus sudah dibeli  (ukuran kami), softbox-nya juga, e... kok cuma untuk iseng-isengan!" (ada benarnya juga sih-hehe).

Nah, suatu ketika, oleh seorang kenalan (kepala sebuah taman kanak-kanak), istri saya ditawari untuk memotret murid-murid di TK-nya (pas foto untuk ijazah dan foto grup) karena dia tahu kami punya kamera. Akhirnya, di depan istri, dengan berat hati (tak bisa menolak-takut dia marah) saya mengangguk saja tanda setuju untuk melaksanakan order pemotretan itu.

Tiba pada hari pemotretan, pagi-pagi benar saya sudah bersiap, kamera dan softbox saya masukkan ke dalam mobil dan go!

Istri juga ikut serta, saya menolak sendirian, karena grogi memotret di hadapan orang ramai, apalagi yang ada biasanya adalah hanya para ibu, guru-guru (yang juga wanita) ditambah murid-murid TK dengan aneka tingkahnya.

Usai pemasangan kain background warna merah berikut setting cahaya, masuklah di sesi pertama, yakni pemotretan masing-masing anak untuk pas foto. Cukup atur posisi, pakaian, dan pegang-pegang anak agar sesuai untuk pemotretan setengah badan, lalu bilang 'bagus...tahan' dan pret...pret. Meski memakan waktu cukup lama, karena dari empat puluh anak, masing-masing bisa dua sampai empat jepretan, akhirnya, sesi tersebut selesai juga.

Tibalah sesi kedua, pemotretan grup segera berlangsung, penataan tempat dan posisi anak-anak dilakukan sesuai kebutuhan dan kondisi yang ada.

Berhubung  ini merupakan pemotretan grup yang melibatkan banyak orang (baca: anak-anak!) yang sangat sulit dikontrol, maka, saya harus punya kiat khusus dalam pembidikan sekaligus eksekusi tombol shutternya.

Pertama, saya mencoba menggunakan metode curi-curi atau diam-diam memencet shutter setelah pengaturan pose. Dengan cara ini, saya berharap, face dan gaya subjek benar-benar alami dan enjoy. Upaya ini ternyata gagal total! Dengan cara mengucap 'tahan...' lalu jepret pun tidak berhasil, karena mereka memang begitu sulit dikendalikan tingkah dan konsentrasinya, padahal sudah berulang kali diatur kembali dan diingatkan oleh para gurunya.

Sebenarnya, banyak cara untuk pemberian kode kepada subjek untuk siap dijepret, dengan harapan pada saat tombol shutter ditekan, yang bersangkutan tidak kaget dan berkedip atau terpejam matanya.  Tapi entahlah, hari itu kepala saya tiba-tiba seperti blank dan mati akal.


Melihat keadaan itu, akhirnya, saya menyerah dan kembali menggunakan metode klasik saja, yaitu memberi aba-aba satu-dua-tiga-jepret. Sebuah metode tukang foto di masa lalu yang cukup berhasil, meski berimbas pada kekakuan  subjek (tidak enjoy bagi yang tidak biasa).

"Nah, sekarang kita pakai aba-aba hitungan tiga kali ya anak-anak!"

 Mereka diam tidak menyahut. Sip dah kalau begitu, artinya, posisi (pose) anak-anak tidak berubah.

Keadaan lumayan tegang, terutama saya. Anak-anak sudah kaku dan menahan napas menghadap kamera. Nah, ini pertanda baik, pikir saya.

Sambil mata mengintip mantap, sementara jari telunjuk tangan kanan berada di atas tombol shutter, saya berteriak: "Siap! Satu...!"

"Dua...tiga!" (kali ini 'dua...tiga'-nya bukan saya yang meneriakkan). Sebuah suara koor nan kompak dari empat puluh anak, tanpa dikomando langsung bergema di dalam ruang pemotretan! Saya terkejut dan heran, kok bisa begini ya?

"Oke, kita ulang ya....!", teriak saya, tidak menggubris ulah mereka.

Namun, seusai saya mengucapkan aba-aba 'siap! satu...!', lagi-lagi, dengan tanpa rasa bersalah, empat puluh murid TK di depan saya itu serempak menimpali dan melanjutkan hitungan 'satu' saya itu dengan kata-kata 'dua...tiga!'.

Saya bingung.

Berulang-ulang saya lakukan, keadaan juga tetap sama, anak-anak melanjutkan (bahkan) lebih lantang dan bersemangat:  "Dua...tiga!".

Aduh, bagaimana hasilnya nanti, kalau konfigurasi dan pose yang sudah susah payah dibangun menjadi berantakan hanya karena mulut-mulut mungil mereka bergerak-gerak  mengucap 'dua...tiga'.

Lesu. Saya hanya mendiamkan saja kejadian tersebut, takut mereka jadi kecewa. Hanya, di dalam hati, saya bertekad akan bekerja keras melakukan editan dengan berbekal puluhan kali jepretan, pilih-pilih mana foto anak yang bagus diambil, yang jelek saya buang.

Usai meringkasi alat, dengan gontai saya berjalan keluar ruangan. Sebelum sampai pintu, saya sempatkan menyapa murid-murid TK  itu yang  memang masih asyik berkerumun di lokasi pemotretan tadi:

"Nah, potret-potretan-nya sudah selesai ya... anak-anak. Sekarang Pakdhe pamit pulang ya.....!"

"Terima kasih Pakdhe!", teriak mereka masih serempak dan kompak seperti sediakala. Bedanya, kali ini ditambah dengan iringan tepuk tangan nan panjang serta meriah. Segala.


http://sastrombudeg.blogspot.com

Tuesday, 9 September 2014

Unduh Cara Mengganti Background Foto dengan Coreldraw

Penggantian background foto orang dengan program Coreldraw ini hanya akan berlangsung sangat mudah dan bersih apabila orang dalam foto dimaksud mengenakan jilbab, peci, pakaian wisuda, dan atau sejenisnya. Sementara, untuk orang yang berambut acak, penggunaan program ini tidak akan efektif dan efisien.

Cara yang saya maksudkan dapat Anda unduh di sini. Perlu diketahui bahwa unduhan yang saya lampirkan di sini mungkin agak kurang nyaman bagi Anda, karena termasuk berkapasitas besar, sekitar 24.6 MB, berformat MS Word serta terdapat gambar-gambar langkah pengeditan yang cukup memakan tempat. Ke depan Insya Allah bisa saya perbaiki agar lebih ringan. Semoga dapat membantu.
Salam.

http://sastrombudeg.blogspot.com